Zeolite untuk Air Kolam Berkoloid

Manajemen Air Tambak
Air kolam berkoloid ditandai dengan gejala pada masa awal budidaya warna air hijau, kemudian setelah umur 40 hari warna air menjadi coklat dan berubah menjadi koloid. 

Dari hasil uji laboratorium, koloid bisa ditimbulkan dari Fe(OH)3 (zat besi hidroksida). Fe(OH)3 ini dapat berasal dari sumber air dan pelarutan dari mineral jenis tanah yang banyak melepaskan zat besi. Pada pH diatas 7,5 ion-ion besi akan bereaksi dengan kesadahan dan salinitas membentuk koloid besi hidroksida. Kontribusi ion besi kemungkinan berasal dari sumber air dan pelarutan dari tanah. Selain ion besi koloid juga bisa terbentuk dari Al3+ dan Mn2+ dengan adanya kesadahan dan alkalinitas yang tinggi, maka zat-zat tersebut akan membentuk senyawa hidroksida sebagai inti koloid. 

Efeknya terhadap plankton, inti koloid ini akan berdampak sebagai koagulan yang akan mengkoagulasi suspensi sel plankton sehingga plankton akan menggumpal dan fotosintesisnya terganggu yang mengakibatkan plankton drop. Untuk kolam tanah jika kandungan Fe3+, Al3+ dan Mn2+ pada tanah tinggi maka drop plankton akan lebih cepat, sedangkan untuk tanah kolam yang kandungan Fe3+, Al3+ dan Mn2+ tidak terlalu tinggi kemungkinan plankton masih bisa bertahan hingga panen, dikarenakan kontribusi kandungan Fe3+, Al3+ dan Mn2+ hanya berasal dari sumber air saja. Namun perlu diwaspadai kandungan Fe3+, Al3+ dan Mn2+ walau tidak sampai menimbulkan koloid drop plankton, namun dapat mengganggu nafsu makan dan pertumbuhan. 

Untuk mengurangi kandungan Fe3+, Al3+ dan Mn2+ yang masuk kekolam disarankan air ditampung ditandon dan kandungan Fe3+, Al3+ dan Mn2+ diendapkan dahulu dengan mengubahnya menjadi endapan hidroksida dengan penambahan kaptan. 

Penambahan zeolit bersama dengan penambahan kaptan tidak disarankan karena pada kondisi kesadahan tinggi, zeolit akan menyerap ion kalsium (Ca2+) sehingga efeknya tidak maksimal. Penambahan zeolit disarankan setelah air masuk kolam. Air yang dimasukan kekolam adalah air lapisan atas yang sudah diendapkan ditandon. 

Selain mengurangi kandungan logam-logam tersebut (Fe3+, Al3+ dan Mn2+), untuk mengatasi plankton supaya lebih stabil di air disarankan melakukan analisis kandungan Trace Element air kolam. Trace Element ini terdiri dari 60 unsur yang berperan penting dalam mendukung nutrisi populasi bakteri dan plankton. Dengan adanya Trace Element ini populasi plankton akan stabil dan terhindar dari blooming serta drop plankton. Selain itu penggunaan bakteri jenis Metallofill juga bisa menyerap sisa kandungan Fe3+, Al3+ dan Mn2+. 

Pemeriksaan Koloid 
Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 nm. Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu partikel. Contoh dari sistem koloid adalah adalah tinta, yang terdiri dari serbuk-serbuk warna (padat) dengan cairan (air). Selain itu contoh koloid yang mudah ditemui adalah koloid lumpur di air, yang memberikan kekeruhan di air. 

Sifat koloid yang terpenting adalah muatan partikel koloid. Semua partikel koloid memiliki muatan sejenis (positif atau negatif). Dikarenakan muatan yang sejenis, maka terdapat gaya tolak-menolak antar partikel koloid. Hal ini mengakibatkan partikel-partikel koloid tidak dapat bergabung sehingga memberikan kestabilan pada sistem koloid, tetapi secara keseluruhan, sistem koloid bersifat netral karena partikel-partikel koloid bermuatan ini akan menarik ion-ion dengan muatan berlawanan dalam medium pendispersinya. 

Sumber Muatan Koloid 
Partikel-partikel koloid mendapat muatan listrik melalui beberapa cara, yaitu:

  • Proses Adsorpsi 

Partikel koloid dapat mengadsopsi partikel bermuatan dari fase pendispersinya. Akibatnya, partikel koloid bermuatan. Jenis muatannya tergantung dari jenis partikel bermuatan yang diserap, apakah berupa kation atau anion.

Partikel Fe(OH)3 (bermuatan positif) mempunyai kemampuan untuk mengadsorpsi kation dari medium pendispersinya sehingga bermuatan positif, sedangkan partikel sol As2S3 (bermuatan negatif) mengadsorpsi anion dari medium pendispersinya sehingga bermuatan negatif. 

Partikel koloid tidak selalu mengadsorpsi ion yang sama tetapi dapat berbeda tergantung jenis ion berlebih (kation atau anion) dari medium pendispersinya. Contohnya, sol AgCl dalam medium pendispersi dengan kation Ag + berlebih akan mengadsorpsi Ag + sehingga bermuatan positif dan sebaliknya, jika anion Cl- berlebih, maka sol AgCl akan mengadsorpsi ion Cl- sehingga bermuatan negatif. 

  • Proses Ionisasi Gugus Permukaan Partikel 

Beberapa partikel koloid memperoleh muatan dari proses ionisasi gugus-gugus yang ada pada permukaan partikel koloid. Contohnya adalah koloid protein dan koloid sabun atau deterjen. 

Kestabilan Koloid 
Muatan partikel-partikel koloid adalah sejenis sehingga cenderung saling tolak-menolak. Gaya tolak-menolak ini mencegah partikel-partikel koloid bergabung dan mengendap akibat gaya gravitasi, sehingga muatan koloid berperan besar dalam menjaga kestabilan koloid. 

Lapisan Bermuatan Ganda 
Permukaan partikel koloid mendapat muatan listrik dengan mengadsorpsi ion dari medium pendispersinya. Lapisan bermuatan listrik ini selanjutnya akan menarik ion-ion dengan muatan berlawanan dari medium pendispersinya. Akibatnya, akan terbentuk 2 lapisan yang disebut lapisan permukaan ganda. Adanya lapisan ini menyebabkan sistem koloid secara keseluruhan bersifat netral. 

Metode Analisa Koloid
Oleh karena partikel koloid sol bermuatan listrik, maka partikel ini akan bergerak dalam medan listrik. Pergerakkan partikel koloid dalam medan listrik disebut elektroforesis. 

Dalam tabung U yang berisi sistem koloid sol yang bermuatan positif, dimasukkan sepasang elektrode dan diberi arus searah dari sumber tegangan. Dapat diketahui bahwa partikel-partikel koloid bermuatan positif tersebut bergerak menuju elektrode dengan muatan berlawanan, yaitu elektrode negatif (katode). Apabila sistem koloid tersebut diganti dengan yang bermuatan negatif, maka akan ditemukan bahwa partikel-partikel koloid akan bergerak menuju elektrode positif (anode). Fenomena eletroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan partikel koloid. Alat yang digunakan untuk menentukan jenis koloid adalah elektroforesis muatan partikel type EC 105. 

Mencegah Terbentuknya Koloid 
Setelah diketahui jenis koloid yang terbentuk, maka dapat dilakukan tindakan untuk mencegah terbentuknya koloid, berdasarkan jenis koloidnya. 

Partikel-partikel koloid yang bersifat stabil karena memiliki muatan listrik sejenis. Apabila muatan listrik itu hilang , maka partikel koloid tersebut akan bergabung membentuk gumpalan. Proses penggumpalan partikel koloid dan pengendapannya disebut Koagulasi. Penghilangan muatan listrik pada partikel koloid ini dapat dilakukan dengan cara sbb : 

  • Penambahan partikel lain dengan muatan berlawanan 

Sistem partikel koloid bermuatan positif dicampur dengan partikel lain yang bermuatan negatif, kedua partikel tersebut akan saling mengadsorpsi menjadi netral maka akan terbentuk kogulasi.
Sumber partikel bermuatan negative yang murah adalah zeolit, sehingga disarankan penambahan zeolit granul ukuran diameter 0.1 – 0.5 cm dengan dosis 20 ton/ha pada saat pertama pengisian air. 

  • Penambahan elektrolit atau meningkatkan kadar garam 

Elektrolit atau garam NaCl ditambahkan kedalam sistem koloid maka partikel koloid yang bermuatan negatif akan menarik ion positif dari elektrolit. Partikel koloid yang bermuatan positif akan menarik ion negatif dari elektrolit. Menyebabkan partikel koloid tersebut dikelilingi lapisan kedua yang memiliki muatan berlawanan. Apabila memungkinkan disamping penambahan zeolit granul, dilakukan pula peningkatan salinitas diatas 20 ppt untuk membantu memberikan muatan pada air. 


  • Penggunaan bakteri jenis chemoautotroph 

Bakteri chemoautotroph adalah bakteri yang melakukan metabolisme dengan cara reaksi redoks perpindahan muatan electron. Sumber energy bakteri ini bukan karbohidrat, lemak atau protein melainkan senyawa kimia sederhana seperti H2S, NO2 dan NO3. Contoh bakteri ini adalah Thiobacillus denitrificans yang melakukan reaksi reduksi H2S dan reaksi denitrifikasi Nitrit dan Nitrat. Reaksi-reaksi tersebut melibatkan perpindahan electron yang memberikan kesempatan pada partikel-partikel koloid mendapat muatan dan menarik ion positif dari koloid.


Adv Welcome


Terimah Kasih atas kunjungan serta telah membaca artikel Zeolite untuk Air Kolam Berkoloid yang dipostingkan oleh Andi Setiapermana pada hari Selasa, Juni 14.

Jika anda membutuhkan informasi mengenai harga, minimal order, kegunaan serta dosis pemakaian dari produk kami (Zeolite, Bentonite, Lignite, Clay, Lime/Kapur/Kalsium Karbonat/CaCO3,Pasir Silika/Pasir Kuarsa dan Arang Batok), silahkan hubungi kami :

CV KURNIA JAYA UTAMA

Phone, SMS or WhatsApp : (+62)8586 3093 505 / (+62) 8231 0521 290
Email : zeolitecikembar@gmail.com
DISTRIBUTOR :

DICARI DISTRIBUTOR UNTUK WILAYAH LAINNYA !!


Artikel Terkait

 
Powered by Blogger